![]() |
| Wawan Wartawan. |
MediaProgres.com — Di balik dinding sebuah rumah di Kabupaten Garut, seorang ibu terus menangis histeris. Sudah tujuh bulan lamanya, ia harus menyaksikan buah hati tercintanya hidup dalam bayang-bayang trauma yang mendalam. Bukannya mendapat perlindungan dari sang ayah, bocah malang tersebut justru diduga menjadi korban kebejatan ayah kandungnya sendiri.
Ironisnya, hingga hari ini, proses hukum kasus pencabulan anak di Garut tersebut dinilai mandek atau jalan di tempat. Kenyataan pahit ini memicu keprihatinan mendalam dari berbagai pihak, termasuk Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak Provinsi Jawa Barat.
Melihat kondisi korban yang kian memprihatinkan dan keputusasaan sang ibu yang terus mengetuk pintu keadilan, Komnas PA Jabar akhirnya angkat bicara dan mendesak keras Polres Garut untuk segera bertindak.
Dampak Psikologis Korban Trauma di Atas Luka
Lambatnya penanganan kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur ini bukan sekadar masalah administrasi hukum. Di balik angka tujuh bulan yang berlalu, ada masa depan seorang anak yang sedang dipertaruhkan.
Komisioner Komnas Perlindungan Anak Jawa Barat, Wawan Wartawan menegaskan, penundaan kasus ini memberikan dampak psikologis sekunder yang sangat buruk bagi korban dan ibunya.
Kata Wawan, pihaknya meminta dengan sangat kepada pihak Polres Garut untuk segera merampungkan proses penyelidikan dan penyidikan atas kasus ini.
"Ini sudah tujuh bulan berjalan di tempat, dan ibu korban sudah menjerit meminta keadilan. Tidak ada alasan untuk menunda-nunda penangkapan pelaku," ujar Wawan, dalam keterangan pers tertulisnya.
Pelaku Masih Buron, Keluarga Hidup dalam Ketakutan
Hal yang membuat publik semakin mengelus dada adalah status terduga pelaku. Pria yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam melindungi darah dagingnya sendiri, kini justru berstatus buron dan berkeliaran bebas tanpa menyentuh jeruji besi.
Kebebasan pelaku yang masih menghirup udara luar ini menjadi teror psikologis tersendiri bagi pihak keluarga. Mereka terpaksa hidup dalam ketakutan dan rasa tidak aman yang mendalam setiap harinya.
Fakta Pelaku Masih Buron Adalah Rapor Merah
Ditambahkan Wawan Wartawan, kasus ini menjadi pukulan telak bagi rasa kemanusiaan. Seseorang yang memiliki ikatan darah paling dekat justru bertindak sebagai predator yang menghancurkan masa depan anaknya.
Pelaku yang merupakan orang terdekat, bahkan ayah kandung sendiri, seharusnya menjadi pelindung, bukan predator. Fakta dia masih buron selama berbulan-bulan adalah rapor merah yang harus segera diselesaikan oleh kepolisian.
"Kami mendesak Polres Garut segera melakukan tindakan tegas, memburu, dan melakukan penangkapan terhadap terduga pelaku," tegas Wawan, dengan nada geram sekaligus prihatin.
Mengawal Hak Pemulihan Korban Pencabulan di Garut
Komnas PA Jawa Barat menyatakan, komitmennya untuk tidak akan mundur sejengkal pun dalam mengawal kasus ini hingga tuntas. Fokus utama saat ini bukan hanya menjebloskan pelaku ke penjara, tetapi juga memastikan korban mendapatkan hak pemulihan psikologis secara utuh.






