• Jelajahi

    Copyright © MediaProgres.com
    Berita aktual tepercaya

    Translate

    Kanal Video

    Hype K-Pop CORTIS dan Hilirisasi Buah Tropis Nusantara, Sebuah Refleksi Agribisnis

    Minggu, 21 Juni 2026


    Oleh: Anisa Indriani Widiyanto


    Program Studi: Agribisnis 

    Fakultas: Sains dan Teknologi 

    Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 



    Pada pertengahan tahun 2026 ini, industri hiburan global dikejutkan oleh ledakan popularitas lagu B-side berjudul 'ACAI' milik boygrup K-Pop, CORTIS. Di bawah naungan agensi Big Hit Music, lagu yang terinspirasi dari makanan sehat favorit para membernya ini sukses menembus 10 juta penayangan di YouTube dalam waktu singkat menurut laporan The Korea Herald. 


    Dampaknya luar biasa, tidak hanya tangga lagu yang berguncang, tren gaya hidup sehat global pun langsung bergeser secara masif demi berburu semangkuk açaí bowl. Bagi mahasiswa atau pelaku agribisnis di Indonesia, fenomena ini tidak boleh dipandang sebelah mata hanya sebagai dinamika dunia fandom. 


    Fenomena CORTIS adalah perwujudan nyata dari konsep Demand Shock yaitu kejutan permintaan instan bernilai miliaran dolar yang digerakkan oleh pop culture. 


    Pertanyaan krusial bagi kita adalah, jika buah açaí berry asal pedalaman Amazon bisa menjadi komoditas global bernilai tinggi lewat sentuhan budaya modern, mengapa kekayaan buah tropis lokal Indonesia yang melimpah belum mampu merebut takhta yang sama?


    Indonesia merupakan salah satu lumbung buah tropis terbesar di dunia


    Menurut laporan Statistik Hortikultura dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis dalam dokumen Statistik Indonesia, total produksi buah-buahan nasional Indonesia sangat melimpah, berada di kisaran 28 hingga 29 juta ton per tahun. 


    Sebagai contoh, produksi buah pisang sendiri mendominasi hingga 9,69 juta ton. Namun, melimpahnya pasokan di hulu belum berbanding lurus dengan tajamnya taring kita di pasar ekspor global. 


    Data olahan BPS yang dipublikasikan oleh GoodStats Data menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2025, Indonesia baru mampu mengekspor 1,4 juta ton buah dengan nilai total sekitar US$ 759,7 juta. 


    Celakanya lagi, dominasi pasar kita masih sangat tersentralisasi, dengan Tiongkok menyerap porsi terbesar sebesar 583.479 ton. Penetrasi produk kita ke pasar non-tradisional, Eropa, atau bahkan pasar premium Asia Timur (seperti Korea Selatan dan Jepang) masih sangat terbatas.


    Kita terjebak pada komoditas segar mentah tanpa narasi dan branding yang kuat


     Sementara dunia menggilai açaí berry karena dicap sebagai superfood penuh antioksidan, dunia belum tahu bahwa Indonesia memiliki buah naga, manggis, kelor, hingga buah merah Papua yang kandungan gizinya tidak kalah superior.


    Hilirisasi value-added agribusiness buah di Indonesia juga masih lambat berkembang karena berdasarkan fakta lapangan di tingkat domestik menunjukkan adanya hambatan struktural yang akut. 


    Mayoritas petani buah kita di daerah sentra produksi masih mengadopsi pola pikir tradisional yang berorientasi pada aspek produksi primer on-farm production semata, tanpa memikirkan proses pascapanen.


    Sebagai contoh, berdasarkan kajian dari Safin Pati University Journal, posisi ekspor buah tropika Indonesia dinilai masih relatif lemah di kancah global jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Thailand atau Vietnam. 


    Kelemahan ini dipicu oleh beberapa faktor kritis di lapangan seperti kurangnya integrasi rantai pasok dingin atau Cold Chain Logistics karena pada dasarnya buah tropis bersifat mudah rusak (perishable) maka tanpa adanya fasilitas cold storage yang merata, buah lokal sering kali mengalami pembusukan sebelum sempat diolah menjadi produk turunan. 


    Selain itu faktor yang lain terjadi karena rendahnya sertifikasi internasional, banyak produk olahan buah kita yang gagal menembus pasar premium karena belum memenuhi standar Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) atau Good Agricultural Practices (GAP) yang diwajibkan oleh negara-negara maju.


    Akibatnya, ketika ada tren global minuman sehat berbasis buah (seperti yang dipicu oleh CORTIS saat ini), Indonesia hanya menjadi penonton atau sekadar importir bubur buah beku dari luar negeri, bukannya menjadi pemain utama yang menyuplai bahan baku orisinal dari tanah nusantara.


    Jika ditelaah mendalam, rahasia di balik melesatnya buah açaí pasca-lagu CORTIS bukan terletak pada rasa buahnya yang bagi sebagian orang sebenarnya cenderung hambar melainkan pada substansi dan esensi nilai yang ditawarkan. 


    Melansir artikel ChosunBiz, lirik lagu 'ACAI' mengandung pesan filosofis bahwa sebagaimana açaí bowl yang tetap terasa lezat dan kaya manfaat dari basisnya saja tanpa memerlukan topping yang mewah, para member CORTIS berkomitmen untuk menjadi artis yang memiliki substansi dan kualitas mendalam.


    Industri agribisnis Indonesia harus meniru strategi komunikasi ini. Kita perlu melakukan lompatan paradigma (shifting paradigm) dari sekadar menjual buah kiloan di pasar tradisional menjadi produk gaya hidup sehat bernilai tambah tinggi yang ramah digital.


    Bayangkan jika jus buah naga Banyuwangi atau ekstrak manggis Tasikmalaya dikemas secara premium, disertifikasi secara organik, lalu dipasarkan melalui kolaborasi kreatif bersama figur publik atau memanfaatkan algoritma media sosial. 


    Kita bisa menggeser ketergantungan pasar dari buah impor ke buah lokal melalui kampanye "Local Superfood untuk Ketahanan Pangan" yang modern. Langkah hilirisasi ini terbukti menjadi ikon baru peningkatan ekonomi masyarakat yang terus digenjot oleh Kementerian Pertanian (Kementan).


     Viralnya lagu 'ACAI' oleh CORTIS adalah bukti empiris bahwa batas antara industri kreatif dan agribisnis modern telah sepenuhnya melebur. Ini adalah momentum bagi mahasiswa agribisnis Indonesia untuk menyadari bahwa masa depan pertanian tidak lagi hanya berada di atas lumpur sawah, melainkan juga di dalam ruang riset hilirisasi produk, strategi pemasaran digital, dan manajemen rantai pasok global.


    Dengan potensi hulu sebesar 29 juta ton buah tropis yang kita miliki, Indonesia punya modal yang lebih dari cukup. Sekarang, tinggal bagaimana kita mengawinkan kekayaan alam tersebut dengan manajemen agribisnis yang visioner agar komoditas lokal kita bisa ikut 'debut' dan merajai panggung ekonomi dunia.

    Kolom netizen >>>

    Buka kolom netizen

    Lentera Islam


    "Sesungguhnya sedekah dapat memadamkan murka Allah dan menghindarkan dari kematian yang buruk." [HR. Tarmidzi]

    Berita Terbaru