• Jelajahi

    Copyright © MediaProgres.com
    Berita aktual tepercaya

    Translate

    Kanal Video

    Di Balik Estetika Jajanan Viral, Ada Rantai Panjang yang Jarang Dibahas

    Jumat, 19 Juni 2026


    Penulis: Tiara Desriani


    Mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Program Studi Agribisnis


    ANTREAN PANJANG di depan gerai seblak kini bukan lagi pemandangan asing, dalam hitungan hari, sebuah warung sederhana bisa mendadak ramai hanya karena satu video singkat di TikTok yang menampilkan kuah merah menyala dan topping melimpah.


    Fenomena ini menunjukkan bahwa makanan tidak lagi sekadar soal rasa, melainkan juga soal tampilan dan sensasi yang mampu menarik perhatian di layar ponsel. 


    Seblak kekinian, dengan konsep prasmanan dan level pedas ekstrem, menjadi contoh bagaimana media sosial mampu mengubah jajanan sederhana menjadi tren konsumsi massal. 


    Banyak orang datang bukan karena kebutuhan, melainkan dorongan untuk ikut mencoba apa yang sedang viral. Berbagai laporan bahkan menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat kini menjadikan platform digital sebagai referensi utama dalam mencari kuliner. 


    Di tengah derasnya arus digital, pilihan makanan semakin ditentukan oleh algoritma dan popularitas visual, bukan semata kualitas atau nilai gizi. 


    Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa selera publik hari ini sebagian dibentuk oleh konten yang mereka konsumsi setiap hari. Namun, di balik semangkuk seblak yang tampak menggoda itu, terdapat rantai panjang komoditas dan kerja yang jarang disadari oleh konsumen. 


    Fenomena ini pada akhirnya tidak hanya mencerminkan perubahan selera, tetapi juga pergeseran cara masyarakat memaknai makanan dalam kehidupan sehari-hari.


    Seblak yang tampak sederhana itu sesungguhnya merupakan hasil dari rangkaian panjang proses produksi yang melibatkan berbagai sektor. 


    Kerupuk sebagai bahan utama berasal dari tepung tapioka yang diolah dari singkong, komoditas pertanian yang banyak ditanam petani lokal. Rasa pedas yang menjadi daya tarik utama bergantung pada cabai, salah satu bahan pangan dengan harga yang sangat fluktuatif di pasar. 


    Selain itu, tambahan telur, ayam, dan aneka topping lain menunjukkan keterkaitan dengan sektor peternakan, sementara bumbu seperti bawang dan kencur berasal dari hasil pertanian lain yang tidak kalah penting. 


    Semua bahan tersebut tidak langsung sampai ke tangan penjual, melainkan melalui rantai distribusi yang melibatkan pedagang, pemasok, hingga transportasi. 


    Bahkan, dalam skala kecil sekalipun, perputaran ekonomi yang tercipta dari satu porsi seblak melibatkan banyak pihak yang bekerja di belakang layar. 


    Dengan demikian, satu porsi seblak sejatinya mencerminkan keterhubungan berbagai komoditas dan tenaga kerja. 


    Sayangnya, dalam euforia makanan viral, konsumen cenderung hanya melihat hasil akhir yang tersaji, tanpa menyadari kompleksitas proses di baliknya.


    Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa viralitas seblak juga membawa dampak positif, terutama bagi pelaku usaha kecil. 


    Lonjakan popularitas yang dipicu media sosial mampu meningkatkan penjualan secara signifikan dan membuka peluang ekonomi baru bagi UMKM kuliner. 


    Data menunjukkan bahwa sektor makanan dan minuman di Indonesia mencakup jutaan unit usaha, dengan jumlah mencapai sekitar 5,28 juta pada 2024, yang sebagian besar digerakkan oleh pelaku usaha skala kecil. 


    Sektor ini juga menjadi salah satu tulang punggung ekonomi nasional karena kontribusinya yang besar dalam menyerap tenaga kerja. 


    Hal ini menandakan bahwa tren kuliner, termasuk seblak viral, turut berperan dalam menggerakkan roda ekonomi di tingkat akar rumput. Dalam banyak kasus, viralitas bahkan menjadi pintu masuk bagi pelaku usaha kecil untuk memperluas pasar tanpa harus memiliki modal besar. 


    Namun, di balik peluang tersebut, banyak pelaku usaha kecil yang sebenarnya belum siap menghadapi lonjakan permintaan yang tidak stabil. 


    Pertumbuhan yang didorong oleh viralitas sering kali bersifat instan, sementara sistem produksi dan manajemen usaha belum tentu siap mengimbanginya.


    Masalahnya, lonjakan permintaan akibat viralitas sering kali tidak sejalan dengan stabilitas bahan baku dan kesiapan pelaku usaha. Seblak yang sangat bergantung pada cabai menjadi rentan terhadap fluktuasi harga komoditas tersebut. 


    Dalam beberapa periode, harga cabai bahkan dapat melonjak tajam hingga lebih dari 50 persen, sehingga langsung meningkatkan biaya produksi. 


    Ketika harga cabai naik, pelaku usaha kecil dihadapkan pada pilihan sulit, menaikkan harga dan berisiko kehilangan pelanggan atau mempertahankan harga dengan mengorbankan kualitas. 


    Kondisi ini semakin kompleks karena pelaku usaha kecil umumnya tidak memiliki cadangan modal yang cukup untuk menahan lonjakan biaya produksi dalam jangka panjang. 


    Ketergantungan pada bahan baku harian membuat mereka harus beradaptasi secara cepat terhadap perubahan harga pasar, yang tidak selalu bisa diimbangi dengan strategi bisnis yang matang. 


    Di sisi lain, tekanan juga datang dari perilaku konsumen yang cenderung konsumtif dan didorong oleh fenomena fomo, sehingga permintaan bisa melonjak secara tiba-tiba lalu menurun dalam waktu singkat. 


    Siklus ini menciptakan ketidakpastian: usaha menjadi sangat ramai saat viral, tetapi bisa kembali sepi ketika tren bergeser. Akibatnya, pelaku UMKM harus bekerja lebih keras dalam kondisi yang tidak stabil, sementara keuntungan yang diperoleh belum tentu sebanding dengan risiko yang mereka tanggung.


    Di luar persoalan produksi dan harga bahan baku, fenomena makanan viral seperti seblak juga memunculkan persoalan lain yang jarang dibahas, yakni pola konsumsi yang berlebihan dan cenderung tidak berkelanjutan. 


    Tidak sedikit konsumen membeli makanan viral bukan untuk memenuhi kebutuhan, melainkan sekadar mengikuti tren atau membuat konten. Akibatnya, konsumsi menjadi tidak terukur, bahkan berpotensi menimbulkan pemborosan. 


    Dalam beberapa kasus, makanan yang dibeli karena tren justru tidak habis dikonsumsi. Di sisi lain, penggunaan kemasan sekali pakai pada makanan kekinian juga turut menambah beban lingkungan. 


    Hal ini menunjukkan bahwa viralitas tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga pada perilaku konsumsi masyarakat secara lebih luas. 


    Tanpa kesadaran yang cukup, tren makanan viral justru dapat mendorong budaya konsumsi yang instan, berlebihan, dan kurang mempertimbangkan dampak jangka panjang.


    Fenomena seblak viral pada akhirnya menunjukkan bahwa makanan tidak lagi sekadar kebutuhan, melainkan bagian dari gaya hidup yang dibentuk oleh media sosial. 


    Namun, ketika perhatian publik hanya terfokus pada tampilan dan tren, rantai panjang komoditas serta kerja keras di baliknya justru terabaikan. 


    Pola konsumsi yang semata didorong oleh viralitas berpotensi menciptakan siklus yang tidak sehat, baik bagi pelaku usaha maupun konsumen itu sendiri. 


    Oleh karena itu, diperlukan kesadaran yang lebih besar dari konsumen untuk tidak sekadar mengikuti arus viralitas, tetapi juga memahami proses produksi yang menopang setiap sajian. 


    Di sisi lain, pelaku usaha perlu mulai membangun manajemen produksi yang lebih berkelanjutan agar tidak bergantung sepenuhnya pada tren sesaat. 


    Pemerintah pun memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas harga bahan pokok seperti cabai agar tidak membebani usaha kecil. Lebih jauh, diperlukan dukungan kebijakan yang mampu melindungi UMKM dari tekanan fluktuasi pasar yang ekstrem. 


    Tanpa upaya tersebut, tren makanan viral hanya akan menjadi siklus sesaat yang menguntungkan di permukaan, tetapi rapuh di akar. 


    Dengan demikian, menikmati makanan viral tidak hanya menjadi pengalaman sesaat, tetapi juga bagian dari ekosistem konsumsi yang lebih bijak, adil, dan berkelanjutan, bukan sekadar mengikuti tren yang datang dan pergi tanpa arah.

    Kolom netizen >>>

    Buka kolom netizen

    Lentera Islam


    "Sesungguhnya sedekah dapat memadamkan murka Allah dan menghindarkan dari kematian yang buruk." [HR. Tarmidzi]

    Berita Terbaru