• Jelajahi

    Copyright © MediaProgres.com
    Berita aktual tepercaya

    Translate

    Kanal Video

    Berkebun atau Bertani?

    Senin, 15 Juni 2026


    Oleh: Muhammad Reza Pradana


    Di zaman yang serba digital dan penuh teknologi modern ini, sector pertanian sering diisukan dengan krisis regenerasi petani akibat menurunnya minat generasi muda pada pertanian. 


    Namun di balik itu semua, muncul satu fenomena dimana banyak anak muda yang mulai tertarik untuk mulai menamam, baik sebagai sekedar hobi melalui kegiatan berkebun atau peluang usaha yang menguntungkan melalui kegiatan pertanian. 


    Perubahan ini memunculkan pertanyaan yang cukup menarik untuk di bahas, apakah generasi muda lebih tertarik untuk berkebun atau Bertani? 


    Sebelum itu, kita harus memahami terlebih dahulu apa pengertian dari perkebunan dan pertanian, jika merujuk pada Undang-undang nomor 16 tahun 2006 tentang sistem penyuluhan pertanian.


    Maka, pertanian dapat di pahami sebagai kegiatan yang mencakup tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, dan kehutanan yang dikelola untuk menghasilkan produk pertanian. 


    Sementara pengertian perkebunan jika merujuk pada Undang-undang nomor 39 Tahun 2014 dapat di pahami bahwa perkebunan adalah segala kegiatan pengelolaan sumber daya alam, sumber daya manusia, sarana produksi, alat dan mesin, budi daya, panen, pengolahan dan pemasaran terkait tanaman perkebunan. 


    Dari kedua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa semua kegiatan Perkebunan termasuk ke dalam kegiatan pertanian, namun tidak semua kegiatan pertanian dapat dikategorikan sebagai perkebunan. 


    Meskipun diantara perkebunan dan Pertanian sekilas terlihat sama, namun terdapat perbedaan signifikan dari kedua nya, baik dari segi tujuan, tanaman yang di tanam dan skala usahanya. 


    Pertanian di tujukan untuk menghasilkan pangan yang di butuhkan oleh masyarakat, sementara Perkebunan biasanya ditujukan untuk bahan baku atau untuk di ekspor ke luar negeri. 


    Dilihat dari tanaman yang biasa di taman, pertanian cenderung mengutamakan untuk menanam komoditas pokok seperti padi, jagung atau gandum, sedangkan Perkebunan lebih cenderung untuk menanam komoditas seperti sayuran dan buah-buahan. 


    Pertanian dan Perkebunan juga memiliki skala usaha yang berbeda, dimana skala usaha pertanian cenderung lebih kecil, akibat lahan yang sempit dan modal yang terbatas, sementara skala usaha perkebunan cenderung lebih besar, karena memiliki lahan yang luas dan modal yang tidak terbatas.


    Di Indonesia, Minat generasi muda saat ini terhadap dunia pertanian bisa dikatakan cukup mengkhawatirkan. pasalnya setiap tahun, minat generasi muda ini selalu mengalami penurunan yang sangat signifikan. 


    Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) keterlibatan generasi muda pada bidang pertanian mengalami tren menurun. Jika pada tahun 2017 sekitar 20,79% pemuda bekerja di sektor pertanian, maka pada tahun 2022 angkanya menurun menjadi sekitar 18% . 


    Kondisi ini mengindikasikan bahwa sektor hijau menghadapi tantangan regenerasi pelaku usaha tani di tengah perubahan preferensi pekerjaan generasi muda.


    Hal ini bisa terjadi adanya karena persepsi anak muda tentang pertanian, bahwa pertanian itu selalu identic dengan 'kotor', lalu waktu panen yang cukup panjang membuat anak muda malas menunggu karena terlalu lama


    Selain itu, dengan meningkatnya pendidikan anak muda, mereka akan cenderung berpikir untuk mengurangi atau bahkan menghindari resiko dari sektor pertanian seperti serangan hama penyakit atau gagal panen, mereka cenderung akan mengambil kepastian secara instan seperti menjual lahan miliknya untuk modal berjualan atau membangun kios. 


    Beberapa hal ini lah yang menjadi penyebab kenapa angka minat generasi muda di Indonesia pada pertanian selalu mengalami penurunan setiap tahunnya. 


    Namun, di saat minat generasi muda terhadap mengalami pertanian menurun, muncul beberapa generasi muda yang memiliki ketertarikan untuk berkebun (urban farming). 


    Kegiatan berkebun mulai di minati oleh sebagian besar anak muda, karena kegiatan ini dapat menjadi solusi di tengah keterbatasan lahan di wilayah perkotaan untuk Bertani. 


    Kegiatan berkebun bisa dilakukan dengan memanfaatkan ruang-ruang kosong yang masih tersedia seperti atap rumah (rooftop) dan halaman depan rumah. 


    Metode berkebun modern yang sering diterapkan seperti Hidroponik dan Aquaponik jauh lebih menarik perhatian mereka, di bandingkan harus mencangkul tanah. 


    Teknik berkebun modern ini juga mudah untuk di pelajari oleh generasi muda yang benar-benar masih belum paham tentang tehnik berkebun, mereka dapat mempelajarinya melalui media sosial dan internet. 


    Selain itu, motivasi dari mereka yang berhasil pada bidang ini, membuat keinginan berkebun generasi muda semakin meningkat.


    Meskipun terdapat tren peningkatan minat generasi muda pada kegiatan berkebun, tidak semua generasi muda berminat untuk menjadikannya sebagai pekerjaan utama. 


    Masih banyak generasi muda yang menganggap bahwa kegiatan berkebun ini hanya sekedar untuk hobi atau gaya hidup sehat. Ketika mereka harus mengelola lahan yang lebih luas dari biasanya, mereka akan menghadapi resiko yang lebih besar juga. 


    Generasi muda saat ini cenderung lebih suka melakukan sesuatu yang minim resiko. Ini menyebabkan mereka tidak berminat untuk beralih menjadi petani profesional. 


    Meningkatnya minat generasi muda terhadap kegiatan berkebun dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah regenerasi petani yang terjadi di Indonesia.


    Namun, untuk mengubah kegiatan berkebun dari hobi dan gaya hidup semata menjadi usaha pertanian, perlu upaya yang besar agar generasi muda dapat terhubungan dengan dunia pertanian yang lebih luas.


    Sebagai solusi, salah satu langkah yang dapat dilakukan yakni melakukan pendekatan yang sesuai dengan generasi muda, mereka cenderung lebih suka kegiatan yang memanfaatkan teknologi dan inovasi modern seperti hidroponik, aquaponik, serta penggunaan drone untuk membantu melakukan pemupukkan dan penyiraman berkala. 


    Dengan seperti ini, pertanian tidak lagi di pandang sebagai kegiatan yang melelahkan dan kotor, namun kegiatan yang memadukan inovasi dan teknologi modern dan memiliki prospek yang menjanjika untuk masa depan.


    Sementara itu, pemerintah dan dunia akademik juga perlu ikut andil dalam mengembangkan program pendampingan untuk petani muda, seperti pemberian modal bantuan usaha, bimbingan kewirausahaan, serta pendampingan dari awal masa tanam sampai masa panen hingga kemudian dijual.


    Selain itu, pemanfaatan teknologi digital seperti media sosial dan internet harus terus di dukung, karena saat ini, pemasaran hasil tani tidak terbatas pada pasar konvensional semata, namun dapat dipasarkan melalui platform daring seperti Instagram, facebook, atau tiktok. 


    Kemudahan akses untuk memasarkan hasil tani ini dapat meningkatkan keuntungan sekaligus membuat generasi muda tertarik untuk ikut menjadi petani milenial.


    Dengan adanya berbagai upaya yang dilakukan, tren meningkatnya minat generasi muda terhadap kegiatan berkebun dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kembali regenerasi pelaku usaha di sektor hijau. 


    Namun tantangannya tidak hanya bagaimana menarik minat mereka untuk mulai menanam, tetapi juga bagaimana mengubah kegiatan yang berawal dari sekedar hobi menjadi aktivitas produktif yang mampu mendukung ketahanan pangan dan pembangunan pertanian di masa yang akan datang.


    Pada akhirnya, pertanyaan mengenai apakah generasi muda lebih tertarik berkebun atau bertani tidak dapat memilki jawaban yang pasti. 


    Data menunjukkan bahwa minat generasi muda terhadap sektor pertanian masih mengalami penurunan, namun di sisi lain muncul tren baru berupa meningkatnya ketertarikan generasi muda terhadap kegiatan berkebun, khususnya melalui konsep pertanian kota (urban farming). 


    Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi muda di Indonesia sebenarnya tidak sepenuhnya menjauhi sektor hijau, melainkan membutuhkan pendekatan yang lebih modern, fleksibel dan sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini. 


    Jika tren berkebun ini dapat diarahkan menjadi usaha yang produktif, maka kegiatan tersebut dapat berpotensi menjadi pintu masuk lahirnya generasi petani baru yang mampu menjawab tantangan ketahanan pangan di masa depan.

    Kolom netizen >>>

    Buka kolom netizen

    Lentera Islam


    "Sesungguhnya sedekah dapat memadamkan murka Allah dan menghindarkan dari kematian yang buruk." [HR. Tarmidzi]

    Berita Terbaru